
Published by: Euis Nurmalasari | World News | Friday, January 23, 2026
Presiden Prabowo Tandatangani Piagam Board of Peace
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace Charter pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. Penandatanganan piagam ini menandai dimulainya operasional Board of Peace (BoP) sebagai badan internasional baru yang dibentuk untuk mengawal proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi Gaza pascakonflik.
Keikutsertaan Presiden Prabowo dalam penandatanganan piagam tersebut mencerminkan komitmen kuat Indonesia untuk terus berperan aktif dalam menjaga ketertiban dunia serta mendorong penyelesaian damai konflik internasional. Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Board of Peace merupakan badan internasional yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawasi administrasi, stabilisasi, dan rekonstruksi Gaza pada masa transisi pascakonflik. Pembentukan badan ini merupakan bagian dari Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict (20-Point Roadmap) dan telah memperoleh dukungan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi 2803 (2025). Resolusi tersebut juga merujuk pembentukan struktur pemerintahan Gaza yang bersifat teknokratis dan non-politis melalui National Committee for the Administration of Gaza (NCAG).
Board of Peace adalah sebuah lembaga internasional yang memiliki misi untuk mewujudkan dan memelihara perdamaian di seluruh dunia. Didirikan dengan tujuan utama untuk mengatasi konflik yang ada dan mempromosikan stabilitas global, lembaga ini berfungsi sebagai platform bagi negara-negara anggota untuk berkolaborasi dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah yang mengganggu ketenangan dunia.
Operasional Organisasi melibatkan berbagai kegiatan, mulai dari mediasi dalam konflik bersenjata hingga penyebaran misi pemeliharaan perdamaian. Dalam melaksanakan mandatnya, Board of Peace juga berkolaborasi dengan organisasi internasional lainnya, seperti PBB, untuk meningkatkan efektivitas upaya perdamaian.
Board of Peace juga memiliki program pendidikan dan pelatihan yang bertujuan untuk menyediakan pemahaman yang lebih baik tentang konsep perdamaian dan resolusi konflik.
Sejarah dan Pendiri Board of Peace
Board of Peace (Dewan Perdamaian) adalah inisiatif diplomatik yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026, bertujuan mengelola rekonstruksi Gaza dan menyelesaikan konflik global. Sebagai badan tandingan PBB, organisasi ini dipimpin Trump dengan partisipasi negara-negara seperti Maroko dan Argentina.
Berikut adalah rincian mengenai sejarah dan pendiri Board of Peace:
- Pendiri dan Inisiator: Board of Peace digagas dan dipimpin langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump memperkenalkan inisiatif ini sebagai respons terhadap konflik Gaza dan upaya untuk mengatasi konflik global.
- Sejarah Pembentukan:
- September 2025: Awal wacana pembentukan organisasi ini muncul.
- Januari 2026: Trump secara resmi meluncurkan Dewan Perdamaian, di mana negara-negara diundang untuk bergabung, termasuk Maroko, Rusia, China, dan Argentina.
- Tujuan: Awalnya fokus pada rekonstruksi Gaza pasca-perang Israel-Hamas, namun meluas menjadi badan internasional untuk perdamaian global, diproyeksikan sebagai tandingan PBB.
- Struktur: Keanggotaan diwajibkan memberikan kontribusi dana (sekitar US$1 miliar untuk 3 tahun). Dewan ini melibatkan tokoh seperti Marco Rubio (Menteri Luar Negeri AS), Jared Kushner, dan Tony Blair.
- Anggota Pendiri: Beberapa negara dan pemimpin yang terlibat di awal pembentukan antara lain Amerika Serikat (dipimpin Trump), Maroko (Raja Mohammed VI), dan Argentina (Presiden Javier Milei).
- Posisi Indonesia: Indonesia telah menyatakan bergabung dalam Dewan Perdamaian ini bersama beberapa negara lain (Arab Saudi, Mesir, Qatar, Turki) sebagai dukungan terhadap stabilitas dan penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Pendirian Board of Peace melibatkan sejumlah tokoh terkemuka di bidang diplomasi dan keamanan internasional dan mereka berkomitmen untuk membuat suatu platform yang berbasis pada dialog terbuka dan kolaborasi lintas negara.
Keberadaan Organisasi ini menjadi sangat relevan dengan munculnya berbagai konflik regional dan global yang memerlukan pendekatan kolektif dan Keberhasilan lembaga ini sangat bergantung pada komitmen negara-negara anggota untuk saling mendukung, serta kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan yang ada.
Peran Indonesia dalam Board of Peace
Indonesia has established itself as a pivotal player in the Board of Peace, contributing significantly to global peacekeeping initiatives through various programs and policies designed to foster collaborative international relations. As the largest archipelagic nation in Southeast Asia, Indonesia’s commitment to promoting peace and stability is reflected in its proactive stance within this global platform. By participating in the Board of Peace, Indonesia not only engages with other nations but also showcases its dedication to conflict resolution and diplomatic dialogue.
One of Indonesia’s critical initiatives within the Board of Peace is its focus on multilateral diplomacy. The Indonesian government has implemented policies that prioritize communication and negotiation, aiming to address conflicts without resorting to military action.
Furthermore, Indonesia has launched several national programs to support the Board of Peace’s objectives. These programs emphasize education, grassroots involvement, and the empowerment of communities in conflict-affected areas. By fostering local capacities, Indonesia aims to build resilience and create sustainable peace.
In addition, Indonesia’s contributions extend beyond its borders, engaging actively in international forums where peace and security are paramount. The nation has supported numerous UN missions, illustrating its commitment to global peace under the auspices of international agreements.
Manfaat dan Keuntungan dari Board of Peace
Board of Peace menawarkan berbagai manfaat dan keuntungan yang signifikan bagi negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia. Salah satu manfaat utama dari keberadaan lembaga ini adalah peningkatan stabilitas regional. Stabilitas ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi asing.
Selain stabilitas, Board of Peace juga berfungsi sebagai platform untuk bantuan kemanusiaan. Anggota dapat bekerja sama dalam menghadapi tantangan bencana alam dan krisis kemanusiaan. Kolaborasi ini juga menciptakan peluang untuk berbagai inisiatif baru dalam bidang perdagangan, lingkungan, dan isu-isu lain yang berhubungan dengan perdamaian dan keamanan.
Manfaat yang ditawarkan oleh Board of Peace sangat beragam, dari stabilitas dan bantuan kemanusiaan hingga kolaborasi yang lebih erat. Sangat penting bagi Indonesia dan negara-negara lainnya untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih damai dan sejahtera.
Peran dan Komitmen Amerika Serikat dan Negara Lainnya
Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya telah memainkan peran penting dalam pengembangan dan penyelenggaraan Board of Peace. Melalui beragam inisiatif, negara-negara ini berupaya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas global. Komitmen tersebut terwujud dalam bentuk dukungan finansial, partisipasi aktif dalam diskusi internasional, serta pengembangan program-program yang mendukung misi Board of Peace.
Amerika Serikat berkontribusi dalam memberikan sumber daya dan teknologi yang diperlukan untuk mencapai berbagai tujuan Board of Peace. seperti pelatihan bagi personel terkait, pengembangan kebijakan dan penyediaan alat komunikasi yang efektif. Dukungan diplomatik AS juga menjadi katalisator penting bagi persetujuan berbagai kebijakan yang mendukung upaya perdamaian internasional.
Perbedaan pandangan dalam hal pendekatan terhadap konflik, serta kepentingan nasional, seringkali dapat menghambat kerjasama yang lebih efisien. Dalam konteks ini, negara-negara lain, termasuk anggota Uni Eropa dan negara-negara Asia, juga berperan untuk menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam mendukung upaya Board of Peace.
Kerjasama ini mencerminkan sebuah komitmen global yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan aspirasi untuk hidup dalam dunia yang lebih damai.
Tantangan dan Hambatan dalam Board of Peace
Board of Peace, sebagai lembaga yang memiliki peran sentral dalam mendorong perdamaian global, menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam menjalankan misinya. Salah satu tantangan utama berasal dari isu politik yang kompleks di tingkat internasional. Negara-negara yang terlibat dalam konflik mungkin enggan berkompromi dan mengedepankan kepentingan pribadi mereka, yang pada gilirannya dapat melemahkan fungsi Board of Peace.
Selain itu, perbedaan kepentingan antar negara anggota juga menjadi hambatan signifikan. Setiap negara memiliki agenda dan prioritas yang berbeda, yang mungkin saling bertentangan dalam konteks pembangunan perdamaian dan Masalah transportasi dan distribusi sumber daya seringkali membatasi kemampuan lembaga untuk menjangkau daerah yang paling membutuhkan bantuan.
Pandangan Masa Depan Board of Peace
Peluang untuk berkembang selalu ada. Dengan menargetkan kerjasama yang lebih erat antara negara-negara anggota dan menciptakan saluran komunikasi yang lebih efektif, Board of Peace dapat memainkan peran penting dalam mediasi konflik internasional.
Dalam konteks ini, Board of Peace perlu merumuskan strategi responsif dan proaktif untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Sebagai entitas yang dinamis, kemandirian untuk beradaptasi dan berinovasi akan menjadi kunci untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan relevan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas dunia.
Kesimpulan Analisis Board of Peace
Salah satu keuntungan utama dari keanggotaan dalam Board of Peace adalah kesempatan untuk berkolaborasi dalam inisiatif perdamaian yang komprehensif. Dengan pendekatan yang inklusif, di mana berbagai negara bersatu untuk mengatasi masalah inti penyebab konflik, Board of Peace menciptakan platform bagi dialog dan pertukaran ide. Ini sangat relevan untuk negara-negara seperti Indonesia, yang memiliki tantangan dan potensi unik dalam mengelola keragaman etnis dan budaya di dalamnya.
Indonesia dan negara-negara lainnya diharapkan untuk terus berkomitmen dalam mendukung tujuan organisasi ini, mengedepankan nilai-nilai kerjasama internasional, serta saling menghormati. Dengan langkah strategis dan komitmen yang berkelanjutan, Board of Peace dapat memimpin jalan menuju resolusi konflik yang lebih baik dan keberlanjutan perdamaian jangka panjang secara global.
Sumber Analisis: Kantor Staf Presiden Republik Indonesia
Sumber Analisis: Board of Peace: Analisis Komitmen Indonesia untuk Palestina
Sumber Analisis: Bursa Asia Merah: Akibat Trump Utamakan Kepentingan Rakyat



